
Di sebuah gang sempit di pesisir Jakarta Utara, sebuah rumah bercat hijau lapuk menghitam ditinggali oleh empat orang anak remaja, paman, kakek, serta neneknya. Sebelas bulan lalu, ayah mereka, yang sebelumnya bekerja sebagai nelayan, telah tiada. Menyisakan kehilangan dan nasib perekonomian keluarga. Nelayan itu bernama Saddam Husein.
Ali, anak pertama, kini bersekolah di SMKN. Adiknya, Asna, bersekolah di MTs swasta dengan biaya bulanan yang harus tetap dibayar. Dua adik mereka masih duduk di bangku SD dan TK.
Semasa hidupnya, Saddam Husein adalah nelayan tradisional. Setiap hari, sejak pagi buta sekitar pukul lima, ia berangkat melaut dan pulang menjelang siang. Penghasilannya tidak menentu, kadang bisa mencapai Rp 1 juta sehari, tapi tak jarang hanya pulang membawa Rp 50 ribu.
Dari laut itulah ia menghidupi empat anaknya, juga merawat orang tuanya yang telah lanjut usia. Sejak istrinya meninggal bertahun lalu, Saddam mengurus sendiri anak-anaknya, bahkan sejak bayi bungsunya masih berusia 15 hari.
Namun, hidupnya berubah sejak alat tangkap ikan tradisional berupa sero miliknya dirusak. Pada September 2024, lima unit sero yang menjadi tumpuan utama penghasilannya dihancurkan menggunakan alat berat. Tidak ada ganti rugi maupun kompensasi.
“Seronya almarhum ada lima, itu habis semua, nggak ada sisa,” kata Salim, rekan nelayan Saddam, kepada detikX.
Kasus yang dialami Saddam Husein bukan peristiwa tunggal. Sejak Juli 2024, PT TRPN mulai memantau lokasi alat tangkap sero milik nelayan di Laut Desa Segarajaya, Kabupaten Bekasi. Ini bagian dari proyek reklamasi dengan pemancangan pagar laut untuk pembangunan Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Paljaya, yang belakangan diketahui tidak memiliki persetujuan kesesuaian kegiatan pemanfaatan ruang laut (PKKPRL).
Pada Agustus 2024, perusahaan mulai memasang pagar bambu menggunakan ekskavator di area tangkapan nelayan, yang sejak awal telah mengganggu aktivitas melaut dan aliran ikan ke sero.
Perusakan kemudian terjadi secara bertahap sejak 16 September hingga Desember 2024. Total 85 unit sero milik 28 nelayan rusak, termasuk lima sero milik Saddam.
Sejak saat itu, Saddam tak lagi bisa melaut. Tidak ada pemasukan. Ia mencoba bertahan, tetapi pikiran tentang anak-anaknya, biaya sekolah, dan kebutuhan sehari-hari terus mengimpit. Ia jatuh sakit, ada masalah pada lambungnya. Stres menumpuk.